Evolusi, Suksesi, dan Faktor Pembatas

EVOLUSI

Evolusi adalah perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perubahan yang terjadi meliputi perubahan struktur tubuh dan gen. Perubahan yang terjadi dari bentuk yang sederhana menjadi bentuk yang kompleks. Evolusi berlangsung lambat dan lama. Makhluk hidup yang berubah dan mampu bertahan atau tidak punah disebut juga dengan istilah evolusi progresif. Sedangkan mahluk hidup yang berubah atau berevolusi tapi gagal bertahan hidup dan akhirnya punah atau disebut dengan evolusi regresif. Evolusi dapat terjadi akibat seleksi alam atau mutasi gen.

http://id.wikipedia.org/wiki/Evolusi

http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/1988686-evolusi/

SUKSESI

Suksesi adalah proses perubahan yang berlangsung satu arah dan teratur serta terjadi pada suatu komunitas dalam jangka waktu tertentu sehingga membentuk komunitas baru yang berbeda dengan komunitas sebelumnya. Suksesi terjadi akibat modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Komunitas baru yang terbentuk, disebut komunitas klimaks, merupakan komunitas yang mencapai keseimbangan dengan lingkungannya (habitat). Suksesi ada dua jenis, yaitu :

1. Suksesi primer

Proses perubahan yang terjadi apabila komunitas lama mendapat gangguan sehingga komunitas yang lama hilang secra keseluruhan dan membentuk komunitas baru. Gangguan berasal dari alam, seperti tanah longsor, letusan gunung berapi, endapan lumpur yang baru di muara sungai, atau endapan pasir di pantai.
Pembentukan komunitas yang baru tersebut biasanya diawali dengan lumut kerak. Tumbuhan perintis (lumut kerak) menyebabkan batuan di daerah sekitarnya melapuk menjadi tanah yang sederhana. Matinya tumbuhan perintis tersebut akan memperkaya kesuburan tanah dan membentuk tanah yang lebih kompleks. Benih yang jatuh di daerah itu akan tumbuh subur. Seperti benih rumput, semak, perdu, dan pepohonan yang terbawa oleh binatang. Tumbuhnya tumbuh-tumbuhan tersebut akan mengundang banyak hewan untuk tinggal di situ, misalnya migrasi binatang. Akhirnya terbentuklah komunitas klimaks atau ekosistem seimbang yang tahan terhadap perubahan (bersifat homeostatis).

2. Suksesi sekunder

Proses perubahan yang terjadi bila komunitas lama mendapat gangguan, baik secara alami taupun secara buatan. Suksesi sekunder bersifat hanya merusak sebagian tempat komunitas sehingga masih terdapat substrat lama atau kehidupan seperti sebelumnya. Komunitas baru yang akan terbentuk tidak berasal dari lumut kerak (tumbuhan pionir).

http://sobatbaru.blogspot.com/2008/06/pengertian-suksesi.html

http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0033%20Bio%201-7d.htm

FAKTOR PEMBATAS

Faktor pembatas adalah faktor yang membatasi dalam perkembangan suatu ekosistem lingkungan. Faktor pembatas dalam suksesi antara lain cuaca dan iklim. Proses suksesi pada daerah hangat, lembab, dan subur dapat terjadi pada ratusan tahun. Suksesi yang terjadi pada daerah ekstrim, misalnya pada puncak gunung atau daerah kering, mencapai ribuan tahun.

http://sobatbaru.blogspot.com/2008/06/pengertian-suksesi.html

lihat juga tentang energi, habitat, relung, dan adaptasi di http://jelitanababan.wordpress.com/

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Suhu-Tekanan

Suhu menunjukkan derajat panas benda. Mudahnya, semakin tinggi suhu suatu benda, semakin panas benda tersebut. Secara mikroskopis, suhu menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu benda. Setiap atom dalam suatu benda masing-masing bergerak, baik itu dalam bentuk perpindahan maupun gerakan di tempat berupa getaran. Makin tingginya energi atom-atom penyusun benda, makin tinggi suhu benda tersebut.

Tekanan Hidrostatis adalah tekanan yang terjadi di bawah air. Tekanan ini terjadi karena adanya berat air yang membuat cairan tersebut mengeluarkan tekanan. Tekanan sebuah cairan bergantung pada kedalaman cairan di dalam sebuah ruang dan gravitasi juga menentukan tekanan air tersebut. Hubungan ini dirumuskan sebagai berikut: “P = ρgh” dimana ρ adalah masa jenis cairan, g (10 m/s2) adalah gravitasi, dan h adalah kedalaman cairan.

Suhu yang paling tinggi berada di permukaan. Semakin dalam suatu wilayah perairan maka tekanan menuju dasar akan semakin besar. Hal ini mengakibatkan suhu semakin turun. Salah satu faktorya tidak ada cahaya yang dapat menembus. Kecepatan suara akan meningkat sebanding dengan peningkatan salinitas, suhu, dan kedalaman. Penurunan gradient suhu yang sangat menyolok terjadi pada zona pycnocline, yakni kedalaman anatara 200 meter sampai dengan 1000 meter. Semakin dalam akan terjadi perubahan suhu yang nyaris konstan. Zona dengan perubahan suhu yang besar disebut thermocline. Jadi pada dasarnya thermocline berhimpit dengan pycnocline. Pada lapisan yang paling berhimpit tersebut oleh para ahli disebut pula sebagai ‘deep scattering layers’.

Manusia di bumi ini telah sependapat bahwa di permukaan laut memiliki tekanan 1 atm (atmosfer). Apabila kita berada di kedalaman 10 meter di bawah permukaan laut, maka kita akan merasakan bahwa tekanan akan bertambah menjadi 2 atm. Demikian selanjutnya hingga kedalaman 50 meter di bawah permukaan laut akan memiliki tekanan sebesar 6 atmosfer. Tekanan yang begitu besar tersebut sebenarnya berasal dari tambahan berat massa air laut setiap 10 meter. Bandingkan dengan keadaan di daratan, setiap mendaki pada ketinggian 100 meter diatas permukaan laut, maka tekanan akan berkurang hanya satu cmHg.

Hubungan suhu dan tekanan tampak pada peristiwa El Nino dan La Nina. El Nino merupakan peristiwa naiknya suhu permukaan laut (warm phase) sedangkan La Nina mempunyai kondisi yang sebaliknya yaitu turunnya suhu permukaan air laut (cold phase) pada area khatulistiwa Samudra Pasifik. El-Nino akan terjadi apabila perairan yang lebih panas di Pasifik tengah dan timur meningkatkan suhu dan kelembaban pada atmosfer yang berada di atasnya. Kejadian ini mendorong terjadinya pembentukan awan yang akan meningkatkan curah hujan di sekitar kawasan tersebut. Bagian barat Samudra Pasifik tekanan udara meningkat sehingga menyebabkan terhambatnya pertumbuhan awan di atas lautan bagian timur Indonesia, sehingga di beberapa wilayah Indonesia terjadi penurunan curah hujan yang jauh dari normal. Suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur menjadi lebih tinggi dari biasa pada waktu-waktu tertentu, walaupun tidak selalu. Keadaan inilah yang menyebabkan terjadinya fenomena La-Nina . Tekanan udara di kawasan equator Pasifik barat menurun, lebih ke barat dari keadaan normal, menyebabkan pembentukkan awan yang lebih dan hujan lebat di daerah sekitarnya

Fenomena El Nino dan La Nina ini, dapat menyebabkan dampak yang positif dan juga negatif terhadap lingkungan laut yang berimbas pada sektor perikanan, baik untuk pasar dalam negeri maupun luar negeri (ekspor). Seperti pada saat terjadi El Nino di satu sisi dapat mengakibatkan meningkatnya suhu dan salinitas air laut yang dapat membahayakan padang lamun (sea grass) dan terumbu karang (coral reef) sebagai habitat dari berbagai jenis ikan. Padang lamun dan terumbu karang memiliki fungsi sebagai tempat pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursery ground) dan tempat mencari makan (feeding ground) bagi ikan-ikan. Padang lamun dan terumbu karang bila terkena sinar matahari berlebihan pertumbuhannya akan terganggu, rusak dan mati. Padang lamun dapat hidup dengan suhu optimum sekitar 28-30°C, kedalaman 0-22 m dan salinitas 25-35 ppt. Padang lamun memiliki nilai prodiktivitas yang tinggi yang bermanfaat bagi komunitas yang hidup di habitat tersebut. Ikan-ikan yang menghuni padang lamun, di antaranya: ikan-ikan parrot (Scarus danSparisoma), ikan surgeon (Acanthurus), ikan-ikan ballyhoo (Hemiramphus brasiliensis), ikan rudder (Kyphosus sectatrix), ikan trigger (Melichthys radula), dugong (Trichechus manatus), juvenile ikan, mollusca, echinoidea, dan crustacea. Sedangkan terumbu karang dapat tumbuh pada suhu 25-29°C, kedalaman 0-50 m dan salinitas 34-36 ppt. Pada saat El Nino, terjadi peningkatan pemutihan (bleaching) pada karang yang menyebabkan berkurangnya atau hilangnya ikan-ikan yang biasa hidup bergantung pada terumbu karang, begitu juga dengan padang lamun. Karena suhu yang semakin panas dan berkurangnya habitat, maka ikan-ikan akan melakukan migrasi ke tempat yang lebih dingin. El Nino juga mengakibatkan penurunan populasi ikan di Laut Pasifik, khususnya jenis pelagis seperti ikan sardine (Sardinops sagax), anchoveta (Engaulis ringens), ikan mackerel (Tranchurus murphyi dan Scomber japonicuperuanus) berkurang karena sedikitnya makanan yang tersedia. Hal ini semua dapat mengakibatkan berkurangnya hasil perikanan tangkap.

Di sisi lain upwelling juga dapat menaikkan biomassa plankton, yaitu seperti yang terjadi di wilayah Barat Sumatera dan Selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara terdapat peningkatan jumlah klorofil, plankton dan massa air yang mengandung banyak nutrien yang sangat bermanfaat bagi ikan. Pada saat inilah terdapat banyak ikan yang dapat menguntungkan dalam sektor perikanan tangkap.

Sebuah riset menunjukkan bahwa El Nino menurunkan intensitas dan jumlah badai Atlantik dan tornado yang melintasi bagian tengah Amerika Serikat.

Dapat dilihat di :

Wibisono, M.S.2005.Pengantar Ilmu Kelautan.Grasindo : Jakarta

http://www.reindo.co.id/reinfokus/edisi23/elnino_lanina.html

 


Posted in Uncategorized | 10 Comments

banyak kegiatan makin rapuh badan

jadi makin banyak berdoa

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment